20/05/2024

KANTOR HUKUM NENGGALA ALUGORO

Konsultan Hukum Dan Bisnis

RUU Sistem Transportasi Nasional Dan Harapan Sistem Transportasi Yang Terintegrasi, Aman, Efektif, Dan Efisien

8 min read

RUU Sistem Transportasi Nasional Dan Harapan Sistem Transportasi Yang Terintegrasi, Aman, Efektif, Dan Efisien – Keberhasilan pembangunan salah satunya tidak terlepas dari peran sektor transportasi sebagai urat nadi kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik, dan pertahanan-keamanan. Pembangunan sektor transportasi diarahkan pada terwujudnya sistem transportasi nasional yang handal, berkemampuan tinggi, dan diselenggarakan secara terpadu, tertib, lancar, aman, nyaman dan efisien dalam menunjang dan sekaligus menggerakan dinamika pembangunan; mendukung mobilitas manusia, barang serta jasa; mendukung pola distribusi nasional; serta mendukung pengembangan wilayah dan peningkatan hubungan internasional yang lebih memantapkan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam rangka perwujudan Wawasan Nusantara.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 17.499 pulau dan luas wilayah perairan mencapai 5,8 juta km2, dengan panjang garis pantai 81.900 km (Jurnal Kajian LEMHANNAS RI Edisi 14 Desember 2012), serta terdiri dari 40 PKN (Pusat Kegiatan Nasional), 1 PKN/PKSN (Pusat Kegiatan Nasional/Pusat Kegiatan Strategis Nasional), 7 IK ( Ibukota Provinsi Non PKN), 1 PEN (Pusat Ekonomi Nasional Non PKN/Non Ibukota Provinsi) dan 16 PKSN (Pusat Kegiatan Strategis Nasional) sehingga mencapai 65 Kota Nasional (Kota Nasional adalah Kota pusat pemerintahan, kota pintu gerbang nasional, pusat kegiatan ekonomi nasional, dan berdampak strategis terhadap pusat kegiatan nasional), yang merupakan jaringan dari transportasi nasional dalam pulau, antarpulau, dan antarnegara yang ada di Indonesia selain dengan jumlah penduduknya yang cukup besar mencapai 237.600.000 jiwa. Banyaknya jumlah pulau, luasnya wilayah Negara, dan tingginya jumlah penduduk tersebut membutuhkan sarana dan prasarana transportasi yang cukup kompleks untuk melakukan perpindahan, baik orang maupun jasa.

Untuk menghubungkan daerah- daerah di atas tidak dapat mengandalkan hanya 1 (satu) jenis moda transportasi saja, melainkan membutuhkan sistem transportasi darat, laut, dan udara yang terintegrasi. Untuk itu diperlukan adanya suatu sistem transportasi yang terorganisir secara kesisteman, untuk dijadikan pedoman dan landasan dalam perencanaan, pembangunan, penyelenggaraan, dan pengawasan transportasi guna mewujudkan penyediaan jasa transportasi perpindahan orang dan barang yang efektif dan efisien, yang pada gilirannya akan mewujudkan transportasi yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau. Untuk itu diperlukan suatu Sistem Transportasi Nasional (selanjutnya disebut Sistranas), yang merupakan suatu tatanan transportasi yang terorganisasi secara kesisteman, yang terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta api, transportasi sungai dan danau, transportasi penyeberangan, transportasi laut, transportasi udara yang masing-masing terdiri dari sarana dan prasarana yg saling berinteraksi membentuk sistem pelayanan jasa transportasi yang efektif dan efisien, terpadu dan harmonis, dan berkembang secara dinamis. Dewasa ini pengaturan mengenai Sistranas terdapat dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 49 Tahun 2005 tentang Sistem Transportasi Nasional (Sistranas), sehingga jangkauan dan arah pengaturannya hanya efektif mengikat di internal yakni di Kementerian Perhubungan, apabila peraturan tersebut akan diberlakukan kepada lembaga lainnya tentu saja akan membawa masalah psikologis tertentu pada aspek kelembagaan dan kordinasi lintas sektor. Seharusnya pengaturan mengenai Sistranas diatur dalam bentuk undang- undang, sehingga kekuatan daya lakunya dapat mengatur semua pihak yang terkait dalam penyelenggaraan transportasi. Terlebih pengaturan mengenai sus-sub dalam moda transportasi telah diatur dalam undang-undang yang bersifat sektoral yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang  Pelayaran,

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, sehingga pengembangan sistem transportasi masih berorientasi pada modanya masing- masing dan belum terintegrasi satu sama lain. Untuk itu dibutuhkan undang-undang yang dapat mengintegrasikan seluruh moda transportasi menjadi sistem transportasi, agar dapat tercipta suatu Sistranas yang terintegrasi, aman, efektif, dan efisien serta memiliki nilai strategis bagi kehidupan perekonomian bangsa dan Negara serta dapat menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Urgensi Pembentukan RUU

Pengaturan mengenai Sistranas dewasa ini baru diatur di dalam peraturan setingkat menter yaitu Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 49 Tahun 2005 tentang Sistem Transportasi Nasional (Sistranas). Di sisi lain Sistranas tidak saja menjadi acuan bagi peraturan di bidang transportasi yang telah ada, tetapi juga menjadi pedoman bagi penyelenggaraan transportasi tidak saja pada kementerian di bidang perhubungan tetapi juga mencakup instansi terkait lainnya seperti kepolisian, kementerian di bidang pekerjaan umum, pemerintah daerah dan badan usaha milik Negara yang bergerak di bidang transportasi.

Adapun beberapa permasalahan yang terkait dengan Sistranas yaitu, pertama, saat ini penyelenggaraan moda transportasi darat, laut, dan udara masih bersifat sektoral dan belum terintegrasi, sehingga konektivitas antarmoda dan intramoda belum terlaksana secara efektif dan efisien. Ini dapat terlihat dengan masih terdapatnya beberapa pembangunan pelabuhan, bandara, pelabuhan laut, terminal, halte yang tidak terkoneksi satu dengan lainnya. Misalnya bandara atau pelabuhan laut dibangun tanpa terkoneksi dengan rencana pembangunan jalan yang dilakukan oleh kementerian di bidang pekerjaan umum atau pemerintah daerah. Atau tidak adanya koneksi antar moda antar suatu bandara atau pelabuhan dengan moda transportasi lainnya, sehingga tidak jarang penumpang merasa kesulitan untuk beralih moda dari suatu moda transportasi yang satu dengan moda transportasi lainnya. Kesemua ini terjadi karena tidak adanya sinergi mulai dari perencanaan, pembangunan, maupun pengoperasian antara suatu moda dengan moda transportasi lainnya, sehingga menyulitkan penumpang dalam melakukan perpindahan antar moda. Kondisi ini tidak saja menyulitkan penumpang dalam melakukan perpindahan antar moda, tetapi juga menjadikan moda transportasi tidak efektif karena tidak terkonesi satu dengan lainnya serta membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk melakukan perpindahan moda, juga menimbulkan biaya tinggi karena penumpang harus mengeluarkan ongkos atau biaya yang lebih mahal dibandingkan apabila moda transportasi tersebut saling terkoneksi.Kedua, belum ada pengaturan mengenai penentuan sasaran kinerja perpindahan orang dan/atau barang sehingga transportasi secara keseluruhan belum mempunyai arah yang jelas dan belum efisien. Saat ini belum ada sasaran atau target yang jelas mengenai berapa lama waktu tempuh dari suatu destinasi ke destinasi lainnya, juga belum ada target atau sasaran berapa banyak penumpang atau barang yang harus diangkut. Sasaran atau target ini sangat diperlukan untuk mengukur apakah suatu moda transportasi telah efektif atau tidak, dan juga berguna untuk merencanakan efisiensi atau kebutuhan moda transportasi yang diperlukan di masa yang akan datang untuk memindahkan barang atau jasa dari suatu destinasi ke tempat yang lain(disampaikan oleh Agus Taufik Mulyono, Indikator Penyelenggaraan Transportasi Berkelanjutan Peran Sistranas Sebagai Dirigen 5 Sub-Sektor Transportasi, makalah disampaikan pada pertemuan dengan Tim Penyusun RUU Sistranas Sekretariat Jendral DPR, tanggal 27 November 2014).

Ketiga, pengaturan mengenai moda transportasi darat, laut, dan udara telah diatur di undang-undang sektoral, yang di dalam penyelenggaraan masing- masing moda transportasi tersebut seluruhnya mengacu kepada Sistranas. Tetapi pengertian Sistranas dan di mana Sistranas diatur masih belum jelas, sementara pengaturan mengenai Sistranas masih dituangkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan. Kondisi ini menyulitkan untuk mengimplementasikan konsep Sistranas itu sendiri, mengingat terdapat komplikasi masalah hukum, dalam arti tidak mungkin peraturan yang mengatur masalah subsektor transportasi yang telah diatur dalam level undang-undang mengacu kepada peraturan menteri yang secara hierarkis berada di bawahnya. Selain itu dalam konteks kelembagaan ruang lingkup penyelenggaraan transportasi tidak hanya berada di dalam satu kementerian, tetapi terkadang juga melibatkan instansi dan kelembagaan lain seperti Kementerian Pekerjaan Umum  dan Perumahan Rakyat, Polri, dan pemerintah daerah. Kondisi ini menyebabkan konsep-konsep mengenai Sistranas yang ada dewasa ini di dalam peraturan menteri sulit untuk dapat diimplementasikan secara efektif, karena terdapat komplikasi permasalahan hukum dan juga kelembagaan.

Keempat, saat ini sebaran pemanfaatan moda transportasi lebih bertumpu pada moda transportasi tertentu, artinya pemanfaatan moda transportasi tidak tersebar secara maksimal, tetapi lebih cendrung mengandalkan pada moda transportasi tertentu sehingga tidak ada penyebaran dan menumpuk pada moda tertentu. Hal ini terjadi terutama di pulau Jawa dan Sumatra, di mana lebih dari 80% (delapan puluh persen) lalu lintas angkutan barang dan lebih dari 82% (delapan puluh dua persen) angkutan penumpang bertumpu pada moda jalan. Hal ini berakibat kepada besarnya beban yang harus ditanggung oleh jalan selain  menimbulkan kemacetan, sehingga diperlukan pengaturan agar beban penggunaan moda transportasi dapat dibagi lebih merata sesuai dengan kondisi demografis dan geografis masing-masing wilayah secara lebih efektif dan efisien agar beban moda transportasi tidak menumpuk di suatu moda transportasi tertentu, tetapi keberadaannya dapat menyebar sehingga tercipta sistem transportasi yang efektif dan efisien.

Kelima, belum ada kelembagaan yang mampu mengoordinasikan penyelenggaraan berbagai moda transportasi agar terwujud sistem transportasi nasional yang terintegrasi, efektif, dan efisien. Saat ini disadari bahwa kelembagaan moda transportasi masih dikelola oleh sub-sub tranportasi masing-masing. Misalnya yang menangani moda transportasi udara oleh Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara, masalah perhubungan laut oleh Dirjen Perhubungan Laut, masalah perkeretaapian ditangani oleh Dirjen Perketeraapian dan seterusnya. Walaupun pembagian kelembagaan tersebut baik agar pembangunan moda transportasi lebih fokus dan jelas siapa penanggungjawabnya, tetapi di sisi lain diperlukan adanya kelembagaan yang dapat mengoordinir itu semua. Apalagi bila kelembagaan tersebut berada di luar kementerian yang menangani masalah perhubungan seperti Kementerian Pekerjaan Umum, Kepolisan, dan pemerintahan daerah. Untuk itu diperlukan kelembagaan yang mampu mensinergikan mulai dari perencanaan, pembangunan, pengoperasian, sampai dengan pengawasan sehingga masing- masing moda transpotarasi dapat saling terkoneksi dan terintegrasi. Adapun kelembagaan tersebut bisa saja lembaga yang sudah ada tetapi diberi kewenangan tambahan untuk bisa mengkoordinasikan atau membentuk lembaga khusus yang baru, semua tergantung dari kebutuhan dan kemampuan anggaran maupun sumber daya manusia yang ada di dalam pemerintah.

Keenam, belum ada pengaturan yang jelas terkait fungsi, tugas, dan kewenangan masing-masing pada pemerintah, provinsi, kabupaten/kota terkait dengan tataran transportasi nasional, wilayah, dan lokal. Apabila merujuk Pasal 2 Permenhub Sistranas dinyatakan bahwa Sistranas diwujudkan dalam Tataran Transportasi Nasional (Tatranas), Tataran Transportasi Wilayah (Tatrawil); dan Tataran Transportasi Lokal (Tatralok). Akan tetapi konsep ini sampai sekarang belum dapat diimplementasikan di lapangan hal ini dikarenakan dasar hukum yang memerintahkan hanya setingkat peraturan menteri, sehingga daya lakunya tidak dapat efektif mengikat sampai dengan pemerintah daerah. Agar konsep pembagian Sistranas ini dapat berjalan efektif dan efisien salah satunya harus diatur dalam payung hukum yang setingkat undang-undang, sehingga daya lakunya dapat lebih bersifat nasional dan dapat mengikat lembaga pemerintahan yang lainnya.

RUU Sistranas nantinya diharapakan akan menjadi payung hukum bagi penyelenggaraan jasa transportasi agar tercipta sistem transportasi yang terintegrasi, aman, efektif, dan efisien, serta mendorong berkembangnya daerah terisolasi, dan pulau2 terpencil. Di samping itu, Sistranas akan meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan transportasi, meningkatkan kualitas pelayanan, meningkatkan pemerataan dan keadilan pelayanan transportasi di masyarakat dan antar wilayah. Sistranas akan mampu membangun konektivitas, membangun logistik nasional, mengembangkan wilayah, dan yang terpenting adalah memperlancar dan mempermurah distribusi logistik dan perpindahan orang. Selain itu RUU Sistranas nantinya akan memudahkan pergantian antar moda transportasi, keterjangkauan tarif, dan menciptakan keterpaduan sistem misal jadual perjalanan, pembelian tiket, jaringan pelayanan, dan lainnya. RUU Sistranas akan memajukan serta menyejahterakan warga di daerah terpencil serta di pulau- pulau terluar.

Harapan di Masa yang Akan Datang

Dari pemaparan di atas, kiranya terhadap penyelenggaraan Sistranas dibutuhkan:

Pertama, dibutuhkan aturan yang setingkat undang-undang yang berfungsi sebagai “dirigen” atau “simpul” terhadap 5 (lima) undang-undang sub sektor transportasi dengan fokus pengaturan transportasi antar moda/multi moda, untuk bisa mengintegrasikan pengaturan di bidang transportasi yang saat ini telah ada dan bersifat sektoral, terutama terkait dengan pengertian dan apa itu Sistranas, sehingga bisa menjadi acuan atau pedoman bagi undang-undang sektoralnya untuk dapat menyelenggarakan suatu moda transportasi di dalam Sistranas agar dapat terwujud sistem transportasi yang terintegrasi, aman, efektif, dan efisien. Untuk itu diperlukan pengaturan yang mampu   mensinkronkan   undang-undang sektoral agar saling terkoneksi dan terintegrasi dalam suatu sistem transportasi nasional. Sistranas harus mampu memfasilitasi aliran barang, jasa, dan manusia dari satu wilayah ke wilayah lainnya di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kedua; diperlukan adanya penyusunan Grand Design Sistranas yang harus mampu menjawab berbagi persoalan di dalam Sistranas, yaitu agar mampu menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai daerah/wilayah di seluruh Nusantara, mewujudkan pemerataan pembangunan, meningkatkan daya saing nasional, serta dapat mendukung sistem logistik nasional (Jurnal Kajian LEMHANNAS RI.). Sehingga sasaran Sistranas yaitu keselamatan (safety) yang diwujudkan dalam rendahnya angka kecelakaan, aksesibilitas yang tinggi (high accessibility) yang meliputi jaringan jalan untuk seluruh jalan, keterpaduan, kapasitas yang mencukupi yang berarti ketersediaan yang mencukupi kebutuhan dan permintaan pengguna jasa, keteraturan jadwal, lancar dan cepat yang berarti waktu tempuh singkat dengan tingkat  keselamatan tinggi, kemudahan, ketepatan waktu, kenyamanan, effisien, keterjangkauan tarif, tertib, rendah polusi serta aman dapat tercapai.

Ketiga, peran dan fungsi Sistranas tidak hanya untuk memperlancar pergerakan arus barang secara efektif dan efisien tetapi juga untuk meningkakan daya saing dan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga untuk mewujudkan Indonesia sebagai Negara maritim yang memiliki kedaulatan dan ketahanan ekonomi nasional, serta sebagai wahana pemersatu bangsa dalam bingkai NKRI.

Keempat, mengingat Indonesia merupakan Negara kepulauan maka sudah  selayaknya transportasi laut/air menjadi tulang punggung dari Sistranans, selain sistem tranportasi darat yang bersifat massal dan transportasi udara.

Tinggalkan Balasan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.